Kemang Festival, Pasar Kaget Ala Kemang

Posted by on December 8, 2011 in Blog, Catatan dyudo | 2 comments

Kemang Festival, Pasar Kaget Ala Kemang

Pernah ke pasar kaget? Jika belum, sempatkan. Setidaknya sekali seumur hidup harus merasakan asyiknya suasana pasar kaget.

festival kemangDiberi nama pasar kaget karena sifatnya yang temporer, insidentil  hanya ada di waktu tertentu saja. Secara harfiah kadang benar-benar mengejutkan karena munculnya yang tiba-tiba. Pada dasarnya yang disebut “pasar” memang memiliki daya tarik bagi banyak orang karena jadi tempat transaksi ekonomi. Alih-alih jual-beli, pasar kaget ternyata punya fungsi lain lebih dari sekedar tempat bertemu penjual dan pembeli. Ia menjadi magnet bahkan bagi individu yang tidak punya kepentingan ekonomis. Pasar kaget punya fungsi lain, jadi semacam arena bersosialisasi yang bagi anak muda lebih tepatnya disebut mejeng.

Lupakan pasar kaget kumuh di pelosok kampung. Kini kita berada di Kemang, Jakarta Selatan. Daerah ini menarik, mindset orang akan mengidentifikasi Kemang sebagai area yang menawarkan beragam hiburan dan ragam komunitas yang juga unik.

festival kemangUntuk yang belum kenal Jakarta, Kemang masuk di wilayah administrasi Jakarta Selatan. Daerah ini diapit ruas utama Mampang-Buncit, Antasari serta Ampera yang sibuk sepanjang hari. Ditengah kesibukan itu Kemang menawarkan paduan unik antara seni dan hiburan. Disana berdiri galeri-galeri seni, butik, rumah mode, studio arsitek, desain dan fotografi. Berdampingan dengan bisnis kreatif itu Kemang adalah lokasi favorit bagi bisnis hiburan dan kuliner. Sebut saja restoran fine dining, wine lounge, fast food, kafe ber-hotspot gratis, dan live music berjajar disana. Karena letak yang strategis dan keunikannya tersebut Kemang menjadi pilihan residensial menarik; rumah, apartemen dan town house kemang ditawarkan dengan harga selangit. Disini juga jadi area hunian favorit bagi ekspatriat. Itulah Kemang.

Dengan publikasi besar-besaran Kemang Festival dihelat, sabtu dan minggu, 2-3 Agustus 2008 silam. Jalur menuju Kemang penuh poster dan spanduk, ruas utama antara perempatan McDonalds hingga Amigos ditutup mulai jumat sampai minggu malam. Lalu-lintas dialihkan dan menyebabkan kemacetan panjang disekitar wilayah ini.

Saya yang penasaran tidak mau ketinggalan. Terbakar provokasi Conna –sahabat sekaligus arsitek website ini– tertarik juga saya untuk merasakan suasana festival yang katanya asyik itu. Sabtu sore pukul 3, saya sudah berada di atas Kopaja 605 (blok M – Kampung Rambutan) menuju Kemang. Jalur Antasari seperti biasa, macet. Ternyata setelah masuk jalan Abdul Majid hingga Kemang selatan macetnya makin parah, mobil-mobil kesulitan mencari tempat parkir. Beruntunglah saya naik kendaraan umum, tinggal duduk dan bayar.

Turun di perempatan Amigos, saya mengeluarkan kamera dan ikut larut dengan arus manusia yang bergerak pelan. Tua-muda, berpakaian trendy hingga yang kucel semua berbaur. Memasuki kawasan festival kami disambut stand makanan yang berjajar sepanjang jalan. Pengunjung dimanjakan beragam pilihan kuliner, dari tradisional sampai selera mancanegara, ada! Kalau boleh jujur, menurut saya penataannya agak semerawut. Selera jajanan loncat dari Kerak Telor, Laksa, Soto Lamongan, Nasi Padang, Bakso Malang, Warung Lalapan Sunda hingga Kebab Turki dan Aneka Pasta Italia. Sayang kuliner khas Betawi-nya sendiri kurang terekspos. Inilah realitas Jakarta, segala jenis makanan dapat ditemui, tapi kuliner Betawi malah langka kita dijumpai. Tak heran Kerak Telor seakan jadi tamu di kampung sendiri.

Bagi pengemar jajanan ringan tidak ketinggalan ada juga stand penjual aneka gorengan, arum manis, manisan, bir pletok hingga es krim Baskin and Robins. Sepasang gadis awal dua puluhan dengan atraktif menawarkan dagangannya. “Eh kita difoto,..ayo mas combro mas…beli donk…”, teriaknya. Dalam hati, “nggak salah nih, jauh-jauh ke Kemang ditawari combro?”. “Combro dideket rumah saya banyak mbak” ledek saya, dan mereka pun melengos pergi.

Barang-barang yang ditawarkan di stand lain kondisinya tak jauh beda dari makanan. Tidak ada yang menarik (setidaknya menurut saya). Terasa hanya pindah lokasi dagang saja. Kebanyakan diisi kaos-kaos distro, baju-baju batik yang sedang in, sandal, kerajinan tangan, lilin aroma terapi dan sarung handphone. Padahal sehari-hari semua bisa kita jumpai di terminal blok M bawah atau di Melawai. Agak unik adalah stand Converse yang menyediakan jasa shoes painting. Tinggal pilih motif lalu bayar, dengan 250 ribu rupiah bisa bawa pulang sepatu bergambar ilustrasi pilihan.

Untuk ide kreatif, tahun ini Kemang Festival mengambil tema Hijau Kemangku. Entah kenapa panitia memilih tema Green, yang jelas di tingkat pelaksanaan menurut saya tema ini tidak terlaksana dan terkesan asal comot. Panitia belum berhasil menampilkan green concept yang terintegrasi baik dalam festival. Bahkan untuk sekedar menyajikan konsep hijau secara harfiah pun masih kurang. Sayang sekali.

festival kemangNamun di luar itu semua saya mendapat pengalaman berharga terutama tentang warga ibukota. Di kota yang semaju dan sebesar Jakarta, –dengan kompleksitas dan pruralitas penghuninya– Festival Kemang seolah menghadirkan nostalgia akan budaya pasar kaget yang makin sulit dijumpai. Tengok saja para ABG ber-tank top dengan hak tingginya tak segan jongkok menawar pedagang sendal lalu berjalan tertawa-tawa menggenggam sebungkus gorengan. Atau lihatlah seorang anak kecil yang berteriak-teriak girang dalam permainan tangkap belut. Seorang anak kampung mungkin akan terheran-heran melihat ekspresi takjubnya atas seekor belut. Tradisi, keakraban dengan lingkungan dan alam nampaknya memang telah menjadi langka. Ini satu sisi wajah Jakarta tahun 2008. Festival Kemang buat saya akhirnya jadi semacam pasar kaget dengan cap mentereng, Sogo jongkok di pojok elite Jakarta. Lebih asyik mengamati tingkah polah pengunjung ketimbang dagangan yang ditawarkan disana.

Tips :

  • naik kendaraan umum / taksi paling praktis ketimbang terjebak macet dan susah cari parkir
  • untuk kenyamanan, sendal jepit dan celana pendek paling disarankan
  • di acara penutupan biasanya ada kembang api
  • tetap waspada, hati-hati, jaga barang bawaan
Dimas Yudo Pratomo (dyudo), fotografer lepas, tinggal di Jakarta. Gaya uniknya adalah gabungan kemampuan fotografi, digital imaging dan personal taste dari hati. Sebuah foto baginya, adalah cara berkomunikasi dan sebuah pernyataan kreativitas. Kontak via email ke info[at]dyudo.com atau twitter @dyudo

2 Comments

  1. Thankyou atas informasinya

    • sama2 mbak.
      Thanks udah mampir.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>