Semalam di Pulau Semak Daun

Posted by on August 13, 2012 in Blog, Catatan dyudo | 19 comments

Semalam di Pulau Semak Daun

Tiga tahun telah berlalu sejak saya dan beberapa teman menjejakkan kaki di kepulauan “surga” yang hanya selemparan batu dari polusi Jakarta.

Awalnya saya sendiri juga tidak begitu yakin dengan apa yang akan kami temukan di kepulauan Seribu mengingat jaraknya hanya 45 kilometer dari Jakarta.

Saya tidak lagi ingat siapa yang mencetuskan ide untuk bertualang ke sana. Yang pasti kami berempat (saya, Novem, Anton dan Rhian) kemudian segera googling mencari destinasi menarik di kepulauan Seribu. Sebagai pendatang di Jakarta, saya buta sama sekali tentang kepulauan ini, kecuali dengar di beberapa tempat sering jadi lokasi prewedding. Pulau Onrust dan pulau Bidadari misalnya, tersohor di kalangan fotografer.

Pasir putih di P. Semak Daun Dermaga Pulau Semak Daun pulau seribu | dyudo.com

Awalnya tujuan kami adalah pulau Pramuka, salah satu pulau terbesar dan pusat pemeritahan untuk daerah Kepulauan Seribu. Hasil browsing di internet menyebutkan bahwa pulau Pramuka punya fasilitas yang cukup lengkap untuk wisatawan, setidaknya kami tahu ada listrik, warung makan dan penginapan. Perjalanan kali ini seharusnya jadi wisata biasa saja.

Kepulauan Seribu dapat dicapai melalui pelabuhan-pelabuhan tradisional di Utara Jakarta, salah satunya penyeberangan dengan kapal kayu dari dermaga Muara Karang. Biayanya relatif lebih murah. Pilihan lain adalah dengan penyeberangan speed boat melalui Dermaga Marina Ancol. Karena alasan ekonomis kami memutuskan akan menyeberang lewat dermaga Muara Karang saja.

Rencana Berubah

Semakin jauh penelusuran kami di internet, hingga akhirnya saya sampai pada sebuah thread di KasKus tentang sebuah pulau bernama Semak Daun. Sebuah nama unik yang membuat penasaran. Informasi di posting itu cukup lengkap ditambah lagi dengan foto-foto pasir putih dan laut jernih yang membuat saya kian tergoda. Semak Daun merupakan pulau kecil di gugusan kepulauan Seribu yang untuk mengelilinginya cuma butuh 30 menit berjalan santai. Ada pembibitan bakau (Rhizophora stylosa) di sana, kabarnya pulau ini dimiliki secara pribadi.

Gilanya setelah melihat foto-foto pulau ini para inisiator trip langsung memutuskan untuk “bermalam” di sana. Cara bermalam yang dimaksud, masih kami samarkan dari teman-teman yang lain. Sebuah kejutan, karena praktis semua persiapan hanya kami lakukan berempat, teman-teman yang lain percaya (atau tepatnya pasrah) saja pada rencana kami.  Ah, saya teringat senyum Novem yang penuh makna dan menggebu-gebunya Anton untuk bermalam di Semak Daun waktu itu. Maka jadilah!

Pembibitan Bakau di P. Semak Daun Sebuah perahu sandar di dermaga Semak Daun Di bawah bivak, di atas pasir

Di penghujung Agustus 2009; Jumat malam, kami semua melewatkan malam di rumah Novem di bilangan Praja,  Kebayoran Lama. Harus berangkat pagi-pagi benar esok agar tak tertinggal kapal penyeberangan. Tapi seperti biasa, toh kami tetap ngobrol sampai lewat tengah malam. Kami bersepuluh; Novem, Anton, Dedi, Topan, Iyan, Rhian, Conna, Dita, Achile dan saya. Semua teman sekantor waktu itu, kecuali Achile.

Setengah lima pagi, langit masih gelap, saat kami berangkat menumpang mobil Novem dan sebuah taksi menuju Muara Karang. Ini bukan pertama kali saya ke Muara Karang, sebelumnya saya sudah pernah masuk pasar ikan yang persis berada di samping dermaga. Begitu tiba kami langsung menuju dermaga, disini jebakan menyambut rombongan kami. Sepertinya air sempat pasang, jalan ke dermaga terendam air semata kaki. Baunya amis, antara campuran air asin, solar dan ikan yang membusuk. Sendal kulit Achile jadi korban pertama, salah kostum rupanya. Dalam remang cahaya lampu penerangan jalan kami perlahan menyusuri genangan air, takut terperosok lubang. Tidak ada yang ingin berkubang pagi-pagi buta di tempat seperti ini.

Sepagi itu dermaga sudah ramai oleh calon penumpang, porter, tukang perahu dan penjaja makanan. Di atas beberapa kapal yang sandar tampak sebagian penumpang tidur lelap di sela tumpukan barang. Banyak diantara mereka yang ternyata sudah datang sejak tengah malam tadi. Sekedar informasi, perjalanan ke kepulauan seribu melalui Muara Karang hanya sekali keberangkatan di pagi hari (antara pukul 6-7 pagi). Kapal akan kembali ke pelabuhan ini sekitar tengah hari (jam 12-13 siang). Jika terlambat, artinya harus menunggu hingga esok.

pulau seribu | dyudo.com pulau seribu | dyudo.com

Kami membayar tiket penyeberangan Rp. 30.000/orang. Selesai urusan tiket, saya sempat sarapan soto ayam di dermaga. Pagi buta seperti itu makanan berkuah panas saya pikir cukup aman untuk dikonsumsi sementara soal rasa nomor dua lah, mengingat kondisi dermaga yang kotor dan kumuh. Setelah killing time dengan ngobrol-ngobrol bersama tukang perahu dan calon penumpang lain kami memutuskan untuk naik dan menunggu di kapal. Kapal kayu yang kami tumpangi panjangnya sekitar 20 meter dengan lebar 5 meter. Penumpang punya pilihan untuk masuk ke lambung kapal, atau naik ke dek atas. Karena ingin menikmati pemandangan, kami duduk di atas. Beruntung dek kapal kami dilengkapi penutup atap dari kain terpal, jika tidak siap-siap saja terpapar matahari sepanjang perjalanan.

Kenangan di Perahu

Pukul 7 pagi kapal meninggalkan dermaga. Dalam semilir angin dingin, kami disuguhi pemandangan cantik teluk Jakarta. Matahari masih menggantung rendah di langit timur. Air laut berwarna keemasan, tapi baunya menyengat. Busuk dan terlihat kental, entah residu bahan bakar kapal atau polusi ibukota yang bermuara ke tempat ini. Semua tahu, Teluk Jakarta tercemar.

Jarak Muara Karang ke pulau Pramuka sekitar 24 mil (38 km) yang rata-rata ditempuh dalam 2-3 jam. Makin jauh meninggalkan wilayah teluk makin terasa gelombang mengombang-ambingkan kapal. Beberapa kali kapal harus mengurangi kecepatan dan menghindari gelombang tinggi. Efek roller-coaster mulai terasa, perut terasa dikocok, kepala pening, mual. Penumpang termasuk teman-teman saya membisu, sebagian memilih tidur untuk menghindari mabuk laut lebih parah. Dalam kondisi seperti itu pikiran saya melayang-layang membayangkan bagaimana rasanya jadi manusia perahu yang mengungsi dari negaranya naik kapal kayu seperti ini. Jauh dari rumah, terpisah sanak-saudara, menderita secara fisik dan mental berhari-hari, bahkan berminggu-minggu didera ganasnya samudera.

Pemandangan di Teluk Jakarta

Saya sendiri mencoba menikmati perjalanan, namun tak banyak yang bisa dilihat kecuali air…air …dan air. Memperhatikan wajah-wajah kuyu penumpang di dek kapal, saya jadi teringat belasan tahun lalu ketika masih duduk di kelas 1 SD, kami sekeluarga menyeberang dari bandara Jefman ke Sorong di daratan Papua. Perahu yang kami tumpangi waktu itu jauh lebih kecil, lebarnya hanya 2 kali badan orang dewasa, longboat yang sisinya di tutup lembaran plastik bening agar penumpang tidak terciprat air laut. Praktis ini serasa naik batang pohon besar yang diberi motor, berguncang-guncang menembus ganas gelombang di perairan Papua Barat. Perahu-perahu itu Johnson namanya. Dijuluki demikian karena mesin pendorong yang digunakan umumnya bermerek Johnson. Dan penyeberangan Jefman-Sorong jadi pengalaman tak terlupakan, adik-adik saya ketika itu malah baru berumur 2 tahun dan 1 tahun. Di akhir tahun 80′an semua pesawat besar (sekelas Fokker-28) harus landing di Jefman karena bandara di Sorong hanya mampu menampung pesawat propeler berbadan kecil. Dari Sorong kami akan naik Twin Otter Merpati untuk ke Fak-fak, tempat ayah ditugaskan. Kini Jefman (SOQ), yang merupakan bandara peninggalan Jepang di perang dunia kedua itu sudah tidak dipergunakan lagi. Bandara Domine Eduard Osok (DEO) di Sorong sudah ditingkatkan kemampuannya untuk didarati pesawat besar.

Pulau

Setelah terombang-ambing selama 2,5 jam akhirnya kami tiba di Pulau Pramuka. Sesaat setelah turun, kami langsung menawar ojek perahu yang akan menyeberangkan ke Semak Daun. Dengan sedikit tawar menawar akhirnya deal di harga Rp.180.000,- untuk antar dan jemput kembali keesokan hari. Beres dengan urusan perahu, kami memutuskan untuk berkeliling dahulu di pulau pramuka sekaligus mencari makan siang. Pulau pramuka ini rapih, saya menyusuri jalanan berbatu dari ujung ke ujung pulau. Rumah-rumah bercat putih sederhana, berpagar bambu setinggi pinggang yang dicat biru-kuning, yang menyenangkan di sini lingkungannya bersih. Saya sempat menyusuri sederetan penginapan, karena weekend cukup ramai hari itu. Lalu duduk-duduk sebentar di tepi lapangan yang sepertinya jadi semacam alun-alun di pulau ini. Matahari bersinar terik, menyengat di kulit. Menjelang tengah hari saya bergabung dengan teman-teman yang tengah santap siang di sebuah warung makan.

pulau seribu | dyudo.com pulau seribu | dyudo.com
pulau seribu | dyudo.com pulau seribu | dyudo.com

Setelah makan siang kami bergegas ke dermaga, tukang perahu sudah menunggu disana. Di dermaga beberapa orang asyik memancing. Saya mencoba melongok ke bawah dermaga, airnya jernih kebiruan, segerombolan ikan kecil berenang cepat melintasi koloni bulu babi (Echinoidea). Warnanya hitam dengan duri-durinya yang panjang. Selain bulu babi, mahluk ini disebut juga landak-laut atau sea-urchin. Banyak sekali bulu babi di dasar dermaga itu.

Perahu yang membawa kami bergerak perlahan, suara mesinnya memekakkan telinga dan mengeluarkan asap sisa pembakaran solar. Saya memilih duduk di haluan perahu, sebisa mungkin menghindari bau asap disel yang saya benci sejak kecil.  Kami melintasi pulau Panggang yang jaraknya hanya 1 kilometer dari pulau Pramuka. Sepertinya warga sedang mempersiapan pesta disana. Ada panggung yang sedang disiapkan. “Dangdutan 17 agustusan”, kata si tukang perahu. Pantas saja, sepertinya di kapal tadi ada beberapa perempuan menor dengan baju agak “wah”, sepertinya mereka yang akan manggung di pulau Panggang nanti malam.

Jarak ke pulau Semak Daun tidak jauh, tidak sampai setengah jam tukang perahu kami menunjuk ke sebuah pulau di depan kami. “Itu pulau Semak Daun, yang ada dermaga kayunya” teriak si tukang perahu melawan suara mesin. Lepas dari perairan pulau Panggang warna laut menjelma semakin biru, kemudian biru tua yang bercampur biru muda, dan semakin dekat ke dermaga Semak Daun warna air dominan turqoise. Senyum mengembang di wajah kami semua, saya sendiri tidak menyangka akan menemukan warna perairan seperti ini. Ini luar biasa, hanya 2 jam dari Jakarta dan saya merasa seperti berada di Tanjung Aan, Lombok Timur, hanya tidak ada pasir merica di sini.

pulau semak daun | dyudo.com pulau semak daun | dyudo.com

Setelah merapat di dermaga dan berpisah dengan si tukang perahu, kami beriringan menuju sebuah rumah di pulau itu. Satu-satunya rumah di sana. Kulonuwun dan minta ijin ke penjaga pulau. Pak Amsori adalah penjaga semak daun, ia tinggal bersama anak dan beberapa cucunya. Orang tua itu tidak banyak bicara, namun ia menyambut kami dengan baik, dan mengijinkan bermalam di pulau kecil yang luasnya cuma 0,75 ha itu.

Novem dan saya langsung mencari tempat untuk mendirikan semacam bivak. Sesuai dengan namanya, pulau ini memang ditumbuhi semak-semak dan guguran daun-daun dari pepohonan menutupi tanahnya. Jarak dari bibir pantai ke semak-semak sekitar 10 meter, kami menakar tempat terbaik, sekaligus memperhatikan bekas air untuk mengira-ngira sejauh mana air akan pasang naik malam nanti. Tak jauh dari tempat kami tampak beberapa beberapa tenda kosong, sepertinya si empunya sedang asyik berenang. Khusus soal bivak, yang kami bawa sebenarnya adalah parasut untuk cover mobil Novem bukan tenda atau terpal tebal. Improvisasi, sekaligus kejutan buat teman-teman. Malam ini kami tidur di tepi pantai, tanpa tenda. Beralas pasir putih, di bawah bintang-bintang. Jangan lupa, ditemani juga oleh gatalnya gigitan nyamuk hutan dan serangga-serangga lain. Ketika itu teman-teman tengah asyik bermain di pantai, kami tak ingin mengganggu keriaan mereka siang itu. Tak lama saya dan Novem pun ikut terjun ke air.

 pulau semak daun | dyudo.com  pulau semak daun | dyudo.com

Weekend di Semak Daun berarti keramaian sesaat untuk pulau itu. Dengan pasir putih dan air yang jernih, pulau yang termasuk dalam wilayah kelurahan Pulau Panggang ini ternyata salah satu tujuan belajar snorkling populer di kepulauan Seribu. Alat snorkling dan sepatu katak banyak disewakan di Pulau Pramuka. Pelancong biasanya cuma mampir sebentar untuk snorkling disini, umumnya mereka lebih memilih bermalam di Pulau Pramuka. Saya ingat ada instruktur yang menyarankan kami agar mengenakan sepatu katak atau alas kaki ketika berenang, kami cuek saja. Ternyata kelak terbukti benar juga perkataannya.

Kami melewatkan sepanjang siang-sore itu untuk berenang dan berjemur santai di pasir putih. Nyaman sekali rasanya. Menjelang senja kami ramai-ramai menuju ujung barat pulau, sayang langit di horizon berawan tebal, tidak ada sunset sore itu.

Angin Laut dan Cahaya Plankton

Saat mulai gelap kami memasak makan malam dengan nesting yang dibawa Novem. Menunya mie instan, kornet dan sarden. Saya dan Iyan makan paling banyak, sementara yang lain sepertinya sudah kehilangan nafsu makan. Malam itu kami buat api ungun, duduk dan ngobrol sampai larut malam sebelum kami masing2 tidur berdekatan untuk menahan dinginnya hembusan angin. Sayup-sayup masih terdengar gaduh panggung hiburan di pulau Panggang. Saya tidur dengan raincoat tipis merek Eiger yang sudah berkali-kali menemani ke Semeru dan Sempu beberapa tahun silam, masih hangat walau kini tidak mampu lagi menahan terpaan hujan.

Karena kelelahan saya tidur cukup nyenyak hingga terbangun sekitar pukul 3, angin kencang menderu, awan bergulung-gulung dan sedikit gerimis. Beberapa teman juga terbangun. Khawatir hujan atau badai, saya bangun dan bikin kopi kemudian berjaga. Tak berapa lama langit ternyata kembali cerah dan angin mereda. Angin laut pikir saya, tapi angin kencang tadi rupanya membuat Conna, Anton, Dedi dan Dita tidak bisa tidur lagi. Saya memutuskan untuk duduk-duduk ngobrol di tepi pantai. Ketika keceh-keceh di kegelapan nampak air berpendar biru-kehijauan, perairan ini ternyata penuh plankton. Konon plankton jika merasa terganggu akan mengeluarkan cahaya fosfor. Saya mendadak teringat sebuah adegan di film The Beach-nya Leonardo diCaprio.

Menjelang sunrise saya mulai bergerak untuk mencari obyek foto, teman-teman nampak asyik duduk di dermaga kayu, sementara Anton pagi-pagi sudah berenang lagi. Saya beruntung, ada Pak Amsori yang tiap pagi menyapu dermaga. Siluetnya menarik perhatian saya.

pulau seribu | dyudo.com

Kembali dari berkeliling sendirian untuk hunting foto, saya dapati Anton sedang duduk dikerumuni teman-teman. Wajahnya pucat, ternyata kaki kanannya bengkak. Terasa sakit dan agak panas, sepertinya ia tertusuk bulu babi. Saya menawarkan diri untuk mengencingi kakinya, cara tradisional ini konon dapat meluruhkan racun bulu babi dengan amoniak yang terkandung dalam air seni. Sayangnya Anton menolak ide ini.

Jam 10 perahu jemputan kami tiba. Setelah berkemas dan pamit ke pak Amsori, kami kembali ke pulau Pramuka untuk mengejar perahu yang akan kembali ke Muara Karang pukul 1 siang. Liburan usai sudah, kami lelah tapi bahagia. Bukan sebuah liburan mewah dengan destinasi yang mentereng, namun perasaan gembira menyelimuti hari-hari kami setelahnya. Kegembiraan yang bertahan lama dalam ingatan, seperti bengkak di kaki Anton yang ternyata baru kempes seminggu kemudian.

Foto di Pulau Semak Daun

-o-

Dimas Yudo Pratomo (dyudo), fotografer lepas, tinggal di Jakarta. Gaya uniknya adalah gabungan kemampuan fotografi, digital imaging dan personal taste dari hati. Sebuah foto baginya, adalah cara berkomunikasi dan sebuah pernyataan kreativitas. Kontak via email ke info[at]dyudo.com atau twitter @dyudo

Save

Save

Save

Save

Save

Save

19 Comments

  1. cerita yang hangat and yet refreshing dengan kalimat komedi yang kadang muncul di tempat yang tak terduga.
    i like it, and the photos are great

    • Thanks Harry Ian Miller, such a name…
      Btw, seharusnya ini jadi cerita horor lho.

  2. Suka Om!

    Haha..seru Dan bikin penasaran sama pulau semak daun ini..

    Kayaknya seru kalo ram2 sama anak2 TrTr….

    Yg gue suka dari Pulau itu kayaknya ketenangannya :)

    • Thank you choy.
      Sebenarnya agak gambling juga kemarin, karena nggak semua orang suka dan rela tidur ngemper ala orang hutan seperti ini. Hahaha…

  3. masDiiimmmm…. fotonya bagusss semuaahhh!!! akuh sukakkk!!

    • Terimakasih fetty. Aku juga suka blog dan catatan snorkling-mu. :D

  4. Deskripsi cerita yang menyenangkan dan foto yang ciamik. Keren blog-nya, Om! Salam kenal! (Klik blog di kolom bookmark!)

    • Salam kenal juga. Thanks for visiting. Btw blog-nya apa ya?

  5. mau tanya dong , itu dari pulau prauka ke pulau semak daun sewa kapal buat PP (pramuka – semak daun – ramuka) cuma 180 ribu ? 4 bulan yang lalu saya ke semak daun. dan sewa kapalnya 400 ribu PP :..( ada no telfon bpk yang punya prahu ga? soalnya saya ada rencana ke semak daun lagi rencananya.. thanks

    • halo amelia,
      makasih sudah mampir. Ada catatannya ya, perjalanan kami itu sudah 3 tahun lalu. Dan memang waktu itu kami dapat harga 180rb untuk antar jemput P.Pramuka – Semak Daun. Lumayan juga ya naiknya kalo jadi 400rb. Sayangnya kami nggak ada yang punya nomer telpon si tukang perahu itu. Kalo ada twitter mungkin bisa mention teman-teman di @traveltroopers atau @TravellerKaskus sapa tau ada yg lebih update infonya. :)

  6. Wah, saya suka tulisannya dan foto-fotonya (juga layout-nya). Rapi dan bersih! :D

    • terimakasih nia.
      Sorry for late reply. :D

  7. Disana ada air ga buat mandi selain air laut….lengket donk klo ga.mandi air biasa.

    • ada sumur air tawar disana….walaupun agak payau juga sih.

  8. reportnya bagus bikin saya makin pengen buru buru ke sana, fotonya juga keren.

    oh iya mau tanya dong, kalo di pulau semak daunnya ada yg menyewakan alat snorkling ga? atau harus sewa di pulau pramuka? rencana september mau ke sana.

    terimakasih :D

    • terimakasih mas.
      Maaf baru approve comment.
      semoga petualangannya juga menyenangkan.

  9. mantap dah ni cerita … lanjut kan dengan cerita cerita yang lain.

    jadi pengen advanture jga ni hahahhaa

    • terimakasih. maaf ya baru cek comment. :)

  10. keren banget tempet2nya,, pengen banget ke sana, kra2 budget yang perlu disiapkan berapa ya,,??

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>